TANAMAN PENGHASIL GAHARU(Aquilaria
spp) BER NILAI EKONOMI SANGAT TINGGI TERANCAM PUNAH (Satria dan Ardi)
Tanaman penghasil gaharu (Aquilaria spp Lamk) berasal dari India
tetapi karena diekploitasi secara besar-besaran maka tanaman ini di Negara asalnya sangat sedikit sekali dijumpai. Indonesia
merupakan Negara penghasil gaharu/gubal terbesar didunia . Daerah penyebaran
gaharu di Indonesia yang ada saat ini adalah
kawasan hutan Sumatera 24 %(Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi,Bengkulu dan Sumsel), Kalimantan18
%, Sulawesi 5%, Maluku, Papua (38%), Nusa Tenggara 13 %, dan Jawa 2%.
Selanjutnya tanaman gaharu di Sumbar
masih di jumpai pada Kabupaten : Sawah Lunto/Sijunjung; Sosel;
Pessel; Pasbar ;Pasaman; Mentawai; Agam: 50 Kota
: Padang Pariaman dan Padang (Satria,2000 s/d 2006).
Sumatera Barat merupakan salah satu daerah
yang masih memiliki tanaman gaharu jenis Aquilaria malacensis dan Enkleia
malacensisi, yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi, karena kandungan gaharu /gubalnya paling
super dibandingkan jenis tanaman gaharu yang lain. Menurut CITES 1995 dan 2003 tanaman gaharu Aqularia malacensis dan Enkleia malacensis tercancam punah bila
tidak segera dibudayakan, mengingat sampai saat ini tanaman tersebut diburu,
ditebang oleh masyarakat, terutama yang berumur 5 – 8 tahun walaupun kadang-kadang tanaman tersebut belum
berisi gaharu/gubal. Umumnya di alam tanaman gaharu berbunga dan berbuah umur 10 tahun, dan
apabila tanaman telah berumur diatas 15 tahun ,di alam jarang tanaman tersebut
berisi gaharu/gubal, tetapi apabila
diperlakukan ada kemungkinan pohon berisi gaharu/gubal.
Tanaman
Gaharu merupakan tanaman kayu berat sebagai produk damar atau resin
dengan aroma keharuman yang khas. Gaharu sering digunakan untuk mengharumkan
tubuh dengan cara fumigasi (farfum), Obat penghilang strees, gangguan ginjal,
sakit perut,asma, hepatitis,sirosis,pembengkakkan liver dan limpa, bahan
antibiotik untuk TBC,reumatik, tumor , kanker,malaria,radang lmbung dan upacara ritual keagamaan.
Dalam
perdagangan, gaharu dikenal dengan agarwood/aloewood/ eaglewood. Rata-rata kuorta yang dimiliki Indonesia
sekitar 300 ton/tahun. Kuorta ini diperoleh dari pembagian
permintaan pasar oleh negara produksen
gaharu, tetapi saat ini produksi gaharu Indonesia baru terpenuhi 10 %
atau sekitar 30 ton/ha sehingga masih sangat jauh dari kuorta ekspor. Kondisi ini sangat berdampak terhadap harga
jual gaharu yang saat berkisar Rp. 200.000
sampai dengan Rp. 40 juta per Kg tergantung kualitasnya, disamping itu harga juga
ditentukan oleh factor manfaat gaharu untuk bahan baku
obat, di mana pertambahan penduduk tiap
tahun meningkat, sehingga kebutuhan gaharu/gubal untuk bahan baku obat tiap tahunnya tidak terpenuhi.
Potensi
produksi gaharu di Indonesia
terutama disumatera berasal dari jenis :
Aquilaria malacensis, A. microcarpa dan
A. filaria, .macrophyllus, Enkleia malacensis, Wikstroemia tenuriamis, dan
Dallbergia parvifolia.
Agar kesinambungan
produksi gaharu berkualitas tinggi ini
tetap terbina dan tidak tergantung pada alam maka perlu upaya pembudidayaan
yang optimal pada beberapa daerah endemik dan sesuai, khususnya jenis Aquilaria
malacensis dan Enkleia malacensis
yang berkualitas tinggi, pembudidayaannya pun berpeluang menurunkan tingkat
kelangkaan. Pembudidayaan gaharu
berkualitas tinggi Indegenus Sumbar memang saat sangat mungkin untuk
dikembangkan karena teknologi produksinya sudah cukup diketahui. Teknologi
ini diperoleh dari hasil temuan
masyarakat pemungut gaharu, hasil penelitian, dan hasil uji coba di lapangan
(Satria 2000 – 2005) dan hasil penelitian oleh beberapa peneliti dari Indonesia
dan International, tetapi hasilnya belum maksimal. Selanjutnya
Satria, Gustian, Swasti, dan Kasim 2006- sekarang sedang melanjutkan
penelitian dalam rangka mendapatkan gaharu yang berkualitas super yang memiliki
nilai ekonomi sangat tinggi.
Satria (2006)melaporkan bahwa patogen
penyebab penyakit yang berasal dari gaharu super yang dihasilkan dari pohon
gaharu Aquilaria spp yang ada di Irian Jaya setelah disuntik
atau diinokulasikan pada pohon gaharu Aquilaria
malacensis, Aquilaria microcarpa
dan jenis Aquilaria lain indegenus
Sumbar di Sawah Lunto Sijunjung dan Pesisir Selatan 3 bulan - 2 tahun belum menunjukkan ada indikasi
tanda-tanda terbentuk gaharu yang bermutu
(Satria 2004 – 2006), tetapi
patogen penyebab penyakit, stressing agens dan tanaman inang (pohon
gaharu) spesifik lokasi yang ada di Sumbar setelah disuntik terhadap pohon
gaharu yang ada di Sumbar telah ada yang
memiliki indikasi terbentuk gubal gaharu yang bermutu (Satria, 2006- 2007),bahkan
ada yang sudah dipanen.
Pemerintah Daerah perlu mengambil
kebijakan( Pemda Propinsi, Pemko dan Pemkab) secepatnya mengingat tanaman Aquilaria malacensis Lamk ini bernilai
ekonomi tinggi dan dapat ditanam pada lahan-lahan Nagari ataupun lahan kritis.
Kabupaten Mentawai merupakan daerah penghasil gaharu Super nomor
satu di dunia sebelum tahun 1985, tetapi kondisinya sejak tahun 1985 sampai
saat ini tidak ada usaha untuk membudidayakan gaharu. Disamping itu daerah lain di Sumatera Barat
yang pernah menghasilkan gaharu super supaya segera membudidayakan tanaman Aquilaria malacensis, mengingat tanaman
tersebut 2 – 3 tahun akan punah. Bahkan tanaman penghasil gaharu ini dapat
dijadikan tanaman hutan kota, hal ini didukung oleh adanya saat ini dua (2)
batang gaharu berumur lebih kurang 12 tahun terletak disudut jalan Protokol di Ibu Kota Propinsi
Sumatera Barat yaitu :Kota Padang Tercinta yang mulai memperlihatkan
tanda-tanda berisi, tetapi dilupakan orang (Satria, 2006).
Sementara saat ini Pemda Propinsi dan Pemkab/Pemko di Sumatera Barat sedang
giat-giatnya mengembangkan tanaman Cacao, tetapi sangat sayang ada tanaman spesifik daerah lokal Sumatera
Barat yang selama ini diburu dan ditebang untuk diambil gubalnya serta memberikan kontribusi ekonomi yang
sangat besar kepada masyarakat yang tahu akan tanaman penghasil gaharu (Aquilaria malacensis) menjadi terlupakan.Oleh
sebab itu kami menghimbau kepada Pemda di Sumatera Barat untuk.dapat
membudidayakan tanaman ini dan bahkan
dari hasil penelitian Satria,dkk (2006-2007) ternyata tanaman penghasil gaharu dapat
ditanam diantara tanam Cacao. Pada zaman Belanda masyarakat Sumbar setiap
menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci
Mekah, selalu mebawa gubal gaharu, dan Bapak Bupati Sawahlunto/ Sijunjung sejak
tahun 2006 telah mensosialisasikan ke pada masyarakat bahwa dengan menanam 5 –
8 batang tanaman gaharu Insya’ Allah dalanm jangka waktu 5 – 8 tahun, sudah
bisa naik haji sekeluarga, Bahkan Bapak Gubernur Sumbar dan Bapak wakil Bupati
Solok Selatan saat ini mulai mencoba menanam tanaman gaharu jenis Aquialria macensis Lamk. Bapak Walikota
Sawahlunto pada tahun ini telah mulai
mencoba menanam tanaman gaharu jenis Aquilaria
malacensis Lamk dan menggerakan masyarakatnya, untuk dapat menanam tanaman
gaharu diantara tanaman perkebunan yang
telah ada sebelumnya, dan nantinya apabila harga tanaman cacao jatuh nantinya
maka dengan adanya salah satunya tanaman gaharu yang ditanam akan dapat
menutupi harga yang jatuh tersebut, sehingga pendapatan masyarakat/petani tetap
dapat meningkat nantinya.
Secara
ekologis jenis – jenis gaharu di Indonesia tumbuh pada daerah dengan
ketinggian 0 – 2400 m dpl. Umumnya
gaharu yang berkualitas baik tumbuh pada
daerah mempunyai suhu 28 – 34 0C, kelembaban 60 – 80 %, dan curah hujan 1.000 –
2.000 mm/tahun. Gaharu untuk tumbuh dengan baik tidak memiliki lokasi khusus.
Umumnya gaharu masih dapat tumbuh baik pada kondisi tanah dengan struktur dan tekstur yang subur, sedang maupun ekstrim, dan gaharu
pun dapat dijumpai pada kawasan hutan rawa, gambut, hutan dataran rendah atau
hutan pengunungan dengan tekstur berpasir, bahkan ditemukan juga jenis gaharu
yang tumbuh di celah-celah berbatuan.
Jarak Tanam 2 m x 3 m atau 3 m x 3
m dan besar lubang = 40 x 40 x 40 cm3. Saat ini telah dikembangkan bibit kultur dan non kultur berbagai tanaman
Gaharu, bahan stressing agents gaharu/ mikroba penginfeksi Gaharu, dan penyuntikan bahan stressing agens pada
tanaman penghasil gaharu endemik Sumbar, serta telah ada tanaman gaharu yang
berisi gubal setelah diperlakukan selama 1 tahun dengan menggunakan inokulan
dan tanaman inang serta lingkungan
spesifik Sumbar setelahdiantara pohon gaharu tersebut sudah ada yang
berisi gaharu/gubal.
Diharapkan kedepan adanya kerjasama antara Pemda
Propinsi,Pemko/Pemkab terutama Dinas Kehutanan
dengan Perguruan Tinggi/ Lembaga
terkait yang ada di Sumbar, mengingat
tanaman ini memiliki nilai ekekonomi sangat tinggi, dan terbentuknya gubal/gaharu
super akibat dari bahan mikroba dan tanaman inang serta lingkungan yang spesifik lokasi. Disamping itu dapat menyelamatkan tanaman
gaharu dari kepunahan dan hasil berupa gubal/gaharu dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat dan Devisa Daerah serta Negara. Kontak person:
Dr. Benni Satria, MP (Dosen Faperta Unand; Tenaga ahAhli/Konsultan PT GWI. Telepon (0751)-447820; HP.082174136613;
081266073588; 081363999914.
0 komentar:
Posting Komentar