Social Icons

Kamis, 07 November 2013

TANAMAN PENGHASIL GAHARU(Aquilaria spp) BER NILAI EKONOMI SANGAT TINGGI TERANCAM PUNAH  (Satria dan Ardi)

Tanaman penghasil gaharu (Aquilaria spp Lamk) berasal dari India tetapi karena diekploitasi secara besar-besaran maka tanaman ini di Negara asalnya   sangat sedikit sekali dijumpai. Indonesia merupakan Negara penghasil gaharu/gubal terbesar didunia . Daerah penyebaran gaharu di Indonesia yang ada saat ini adalah  kawasan hutan Sumatera 24 %(Aceh, Sumut, Sumbar,  Riau, Jambi,Bengkulu dan Sumsel), Kalimantan18 %, Sulawesi 5%, Maluku, Papua (38%), Nusa Tenggara 13 %, dan Jawa 2%. Selanjutnya tanaman gaharu  di Sumbar masih  di jumpai pada  Kabupaten : Sawah Lunto/Sijunjung; Sosel; Pessel; Pasbar ;Pasaman; Mentawai; Agam: 50 Kota : Padang Pariaman dan Padang  (Satria,2000 s/d 2006).
 Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang masih memiliki tanaman gaharu jenis Aquilaria malacensis dan Enkleia malacensisi, yang memiliki nilai ekonomi sangat  tinggi, karena kandungan gaharu /gubalnya paling super dibandingkan jenis tanaman gaharu yang lain.  Menurut CITES 1995 dan 2003 tanaman gaharu Aqularia malacensis dan Enkleia malacensis tercancam punah bila tidak segera dibudayakan, mengingat sampai saat ini tanaman tersebut diburu, ditebang oleh masyarakat, terutama yang berumur 5 – 8 tahun  walaupun kadang-kadang tanaman tersebut belum berisi gaharu/gubal. Umumnya di alam tanaman gaharu  berbunga dan berbuah umur 10 tahun, dan apabila tanaman telah berumur diatas 15 tahun ,di alam jarang tanaman tersebut berisi gaharu/gubal, tetapi  apabila diperlakukan ada kemungkinan pohon berisi gaharu/gubal.
Tanaman  Gaharu merupakan tanaman kayu berat sebagai produk damar atau resin dengan aroma keharuman yang khas. Gaharu sering digunakan untuk mengharumkan tubuh dengan cara fumigasi (farfum), Obat penghilang strees, gangguan ginjal, sakit perut,asma, hepatitis,sirosis,pembengkakkan liver dan limpa, bahan antibiotik untuk TBC,reumatik, tumor , kanker,malaria,radang lmbung dan  upacara ritual keagamaan.
       Dalam perdagangan, gaharu dikenal dengan agarwood/aloewood/ eaglewood.  Rata-rata kuorta yang dimiliki Indonesia sekitar  300 ton/tahun.  Kuorta ini diperoleh dari pembagian permintaan  pasar oleh negara produksen gaharu, tetapi saat ini produksi gaharu Indonesia baru terpenuhi  10  % atau sekitar 30 ton/ha sehingga masih sangat jauh dari kuorta ekspor.  Kondisi ini sangat berdampak terhadap harga jual gaharu yang saat  berkisar Rp. 200.000 sampai dengan Rp. 40 juta per Kg tergantung kualitasnya, disamping itu harga juga ditentukan oleh factor manfaat gaharu untuk bahan baku obat,  di mana pertambahan penduduk tiap tahun meningkat, sehingga kebutuhan gaharu/gubal untuk bahan baku obat tiap tahunnya tidak terpenuhi. 
       Potensi produksi gaharu di Indonesia terutama disumatera berasal dari  jenis : Aquilaria malacensis, A. microcarpa dan A. filaria, .macrophyllus, Enkleia malacensis, Wikstroemia tenuriamis, dan Dallbergia parvifolia.
       Agar kesinambungan produksi gaharu berkualitas tinggi  ini tetap terbina dan tidak tergantung pada alam maka perlu upaya pembudidayaan yang optimal pada beberapa daerah endemik dan sesuai, khususnya jenis Aquilaria malacensis dan Enkleia malacensis yang berkualitas tinggi, pembudidayaannya pun berpeluang menurunkan tingkat kelangkaan.  Pembudidayaan gaharu berkualitas tinggi Indegenus Sumbar memang saat sangat mungkin untuk dikembangkan karena teknologi produksinya sudah cukup diketahui.  Teknologi  ini  diperoleh dari hasil temuan masyarakat pemungut gaharu, hasil penelitian, dan hasil uji coba di lapangan (Satria 2000 – 2005) dan hasil penelitian oleh beberapa peneliti dari Indonesia dan International, tetapi hasilnya belum maksimal.  Selanjutnya  Satria, Gustian, Swasti, dan Kasim 2006- sekarang sedang melanjutkan penelitian dalam rangka mendapatkan gaharu yang berkualitas super yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.
Satria (2006)melaporkan bahwa patogen penyebab penyakit yang berasal dari gaharu super yang dihasilkan dari pohon gaharu Aquilaria  spp yang ada di Irian Jaya setelah disuntik atau diinokulasikan pada pohon gaharu Aquilaria malacensis, Aquilaria microcarpa dan jenis Aquilaria lain indegenus Sumbar di Sawah Lunto Sijunjung dan Pesisir Selatan 3 bulan -  2 tahun belum menunjukkan ada indikasi tanda-tanda terbentuk gaharu yang bermutu  (Satria 2004 – 2006), tetapi  patogen penyebab penyakit, stressing agens dan tanaman inang (pohon gaharu) spesifik lokasi yang ada di Sumbar setelah disuntik terhadap pohon gaharu yang ada di Sumbar  telah ada yang memiliki indikasi terbentuk gubal gaharu yang bermutu (Satria, 2006- 2007),bahkan ada yang sudah dipanen.
Pemerintah Daerah perlu mengambil kebijakan( Pemda Propinsi, Pemko dan Pemkab) secepatnya mengingat tanaman Aquilaria malacensis Lamk ini bernilai ekonomi tinggi dan dapat ditanam pada lahan-lahan Nagari ataupun lahan kritis.
Kabupaten Mentawai  merupakan daerah penghasil gaharu Super nomor satu di dunia sebelum tahun 1985, tetapi kondisinya sejak tahun 1985 sampai saat ini tidak ada usaha untuk membudidayakan gaharu.  Disamping itu daerah lain di Sumatera Barat yang pernah menghasilkan gaharu super supaya segera membudidayakan tanaman Aquilaria malacensis, mengingat tanaman tersebut  2 – 3 tahun akan punah.  Bahkan tanaman penghasil gaharu ini dapat dijadikan tanaman hutan kota, hal ini didukung oleh adanya saat ini dua (2) batang gaharu berumur lebih kurang 12 tahun terletak disudut jalan Protokol di Ibu Kota Propinsi Sumatera Barat yaitu :Kota Padang Tercinta yang mulai memperlihatkan tanda-tanda berisi, tetapi dilupakan orang (Satria, 2006). 
              Sementara  saat ini Pemda Propinsi  dan Pemkab/Pemko di Sumatera Barat sedang giat-giatnya mengembangkan tanaman Cacao, tetapi sangat sayang  ada tanaman spesifik daerah lokal Sumatera Barat yang selama ini diburu dan ditebang untuk diambil gubalnya  serta memberikan kontribusi ekonomi yang sangat besar kepada masyarakat yang tahu akan tanaman penghasil gaharu (Aquilaria malacensis) menjadi terlupakan.Oleh sebab itu kami menghimbau kepada Pemda di Sumatera Barat untuk.dapat membudidayakan tanaman ini dan bahkan  dari hasil penelitian Satria,dkk (2006-2007)  ternyata tanaman penghasil gaharu dapat ditanam diantara tanam Cacao. Pada zaman Belanda masyarakat Sumbar setiap menunaikan Ibadah  Haji ke Tanah Suci Mekah, selalu mebawa gubal gaharu, dan Bapak Bupati Sawahlunto/ Sijunjung sejak tahun 2006 telah mensosialisasikan ke pada masyarakat bahwa dengan menanam 5 – 8 batang tanaman gaharu Insya’ Allah dalanm jangka waktu 5 – 8 tahun, sudah bisa naik haji sekeluarga, Bahkan Bapak Gubernur Sumbar dan Bapak wakil Bupati Solok Selatan saat ini mulai mencoba menanam tanaman gaharu jenis Aquialria macensis Lamk. Bapak Walikota Sawahlunto  pada tahun ini telah mulai mencoba menanam tanaman gaharu jenis Aquilaria malacensis Lamk dan menggerakan masyarakatnya, untuk dapat menanam tanaman gaharu diantara  tanaman perkebunan yang telah ada sebelumnya, dan nantinya apabila harga tanaman cacao jatuh nantinya maka dengan adanya salah satunya tanaman gaharu yang ditanam akan dapat menutupi harga yang jatuh tersebut, sehingga pendapatan masyarakat/petani tetap dapat meningkat nantinya.
             Secara ekologis jenis – jenis gaharu di Indonesia tumbuh pada daerah dengan ketinggian 0 – 2400 m dpl.  Umumnya gaharu  yang berkualitas baik tumbuh pada daerah mempunyai suhu 28 – 34 0C, kelembaban 60 – 80 %, dan curah hujan 1.000 – 2.000 mm/tahun. Gaharu untuk tumbuh dengan baik tidak memiliki lokasi khusus. Umumnya gaharu masih dapat tumbuh baik pada kondisi tanah dengan  struktur dan tekstur  yang subur, sedang maupun ekstrim, dan gaharu pun dapat dijumpai pada kawasan hutan rawa, gambut, hutan dataran rendah atau hutan pengunungan dengan tekstur berpasir, bahkan ditemukan juga jenis gaharu yang tumbuh di celah-celah berbatuan.
              Jarak Tanam  2 m x 3 m atau  3 m x  3 m dan besar lubang = 40 x  40 x 40 cm3.  Saat ini telah dikembangkan  bibit kultur dan non kultur berbagai tanaman Gaharu, bahan stressing agents gaharu/ mikroba penginfeksi Gaharu, dan  penyuntikan bahan stressing agens pada tanaman penghasil gaharu endemik Sumbar, serta telah ada tanaman gaharu yang berisi gubal setelah diperlakukan selama 1 tahun dengan menggunakan inokulan dan tanaman inang serta lingkungan  spesifik Sumbar setelahdiantara pohon gaharu tersebut sudah ada yang berisi gaharu/gubal.
             Diharapkan kedepan adanya kerjasama antara Pemda Propinsi,Pemko/Pemkab terutama Dinas Kehutanan   dengan   Perguruan Tinggi/ Lembaga terkait  yang ada di Sumbar, mengingat tanaman ini memiliki nilai ekekonomi  sangat tinggi, dan terbentuknya gubal/gaharu super akibat dari bahan mikroba dan tanaman inang serta lingkungan  yang spesifik lokasi.  Disamping itu dapat menyelamatkan tanaman gaharu dari kepunahan dan hasil berupa gubal/gaharu dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan Devisa Daerah serta Negara. Kontak person: Dr. Benni Satria, MP (Dosen Faperta Unand; Tenaga ahAhli/Konsultan PT GWI. Telepon (0751)-447820; HP.082174136613; 081266073588; 081363999914.  

0 komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text