Social Icons

Jumat, 15 November 2013

GAHARU, AROMATIK TERMAHAL DI DUNIA
Gaharu adalah bahan aromatik termahal di dunia. Harga gaharu kualitas baik di tingkat konsumen di pasar internasional, sekitar US $ 5 sd. 15 per gram,  (Rp 45.000,- sd. 135.000,-). Sedemikian tingginya nilai produk gaharu, hingga penjualannya menggunakan bobot gram. Bukan ons atau kg. Gaharu adalah bahan parfum, kosmetik dan obat-obatan (farmasi). Parfum diperoleh dari hasil ekstraksi resin dan kayunya. Gaharu sudah dikenal sebagai komoditas penting, semenjak jaman Mesir Kuno. Mumi mesir, selain diberi rempah-rempah (kayumanis, cengkeh), juga diberi cendana dan gaharu. Dalam injil, disebutkan bahwa kain kafan Yesus (Isa Al Masih), diberi Aloe. Istilah ini bukan mengacu ke Aloe vera (lidah buaya), melainkan kayu gaharu.
Itulah sebabnya kayu gaharu juga disebut sebagai aloeswood (kayu aloe). Nama dagang lainnya adalah agarwood, heartwood, dan eaglewood. Di pasar internasional, gaharu murni diperdagangkan dalam bentuk kayu, serbuk dan minyak (parfum). Kayu gaharu bisa dijadikan bahan kerajinan bernilai sangat tinggi, atau untuk peralatan upacara keagamaan. Serbuk gaharu digunakan untuk dupa/ratus, dan minyaknya merupakan parfum kelas atas. Serbuk gaharu sebagai dupa akan dibakar langsung dalam ritual keagamaan. Baik Hindu, Budha, Konghucu, Thao, Shinto, Islam dan Katolik. Kayu gaharu disebut sebagai kayu para dewa. Aroma gaharu karenanya dipercaya mampu menyucikan altar dan peralatan peribadatan lainnya.
Selain itu dupa gaharu juga dimanfaatkan untuk mengharumkan ruangan, rambut dan pakaian para bangsawan. Aroma gaharu akan digunakan sebagai aromaterapi di spa-spa kelas atas.  Selain untuk ritual keagamaan, parfum dan kosmetik, produk gaharu juga sering dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik. Baik pemanfaatannya, terlebih lagi proses pencariannya dari alam. Pengambilan gaharu dari hutan, memang selalu dilakukan secara tradisional, dengan berbagai ritual dan kebiasaan setempat. Pencarian gaharu di lokasi sulit, harus menggunakan pesawat terbang atau helikopter. Beberapa kali pesawat terbang dan heli pencari gaharu, hilang di hutan belantara di Kalimantan, hingga memperkuat kesan mistis produk gaharu.
# # #
Gaharu adalah getah (resin, gubal) dari pohon genus Aquilaria, yang tumbuh di hutan belantara India, Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan Cina Selatan. Sampai saat ini, Indonesia masih merupakan pemasok produk gaharu terbesar di dunia. Meskipun populasi tumbuhan Aquilaria  cukup besar, namun tidak semua pohon menghasilkan gaharu. Sebab resin itu baru akan keluar, kalau tanaman terinfeksi oleh kapang (fungus) Phialophora parasitica. Akibat infeksi, tanaman mengeluarkan getah yang aromanya sangat harum. Getah ini akan menggumpal di dalam batang kayu. Para pencari gaharu menyebut kayu dengan resin ini sebagai gubal. Tanaman Aquilaria yang tidak terinfeksi Phialophora parasitica, tidak akan beraroma harum.
Genus Aquilaria terdiri dari 22 spesies: A. (Aquilaria) agallocha; A. apiculata; A. baillonii; A. banaensis; A. beccariana; A. brachyantha;  A. citrinicarpa; A. crassna; A. cumingiana; A. filaria; A.grandiflora; A. hirta; A. malaccensis; A. microcarpa; A. ophispermum; A. parvifolia; A. pentandra; A. rostrata; A. sinensis; A. subintegra; A. urdanetensis; A. yunnanensis. Dari 22 spesies itu, yang bisa terinfeksi kapang Phialophora parasitica hanya ada delapan spesies yakni: A. agallocha; A. crassna; A. grandiflora; A. malaccensis; A.  ophispermum; A.  pentandra; A.  sinensis; dan Aquilaria yunnanensis. Dari delapan spesies itu, yang paling potensial menghasilkan gaharu adalah A. malaccensis dan A. agallocha.
Gaharu yang sekarang beredar di pasaran, semuanya berasal dari perburuan dari hutan. Para pencari gaharu, kadang-kadang tidak membedakan, mana kayu yang ada gubalnya, dan mana yang tidak. Hingga semua pohon Aquilaria yang dijumpai akan ditebang. Akibatnya, populasi kayu Aquilaria terus terkikis dan makin langka. Dalam pertemuan ke 13  Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES CoP 13) di Bangkok, Thailand, 2 -14 Oktober 2004, genus Aquilaria telah dimasukkan dalam apendik II. Hingga pengambilan gaharu dari alam, sebenarnya dilarang. Tetapi karena tingginya nilai gaharu, maka pencarian gaharu dari hutan terus berlangsung tanpa bisa dicegah.
Genus Aquilaria adalah pohon dengan tinggi mencapai 20 m dan diameter batang 60 cm, yang tumbuh di hutan hujan tropika basah, mulai dari ketinggian 0 sampai dengan 1.000 m. dpl. Aquilaria bisa hidup pada berbagai jenis tanah. Mulai dari tanah humus, berpasir, lempung, berkapur, sampai berbatu-batu. Gaharu termasuk tanaman yang tahan kekeringan, dan juga tahan hidup di bawah naungan. Tanaman yang masih muda, memang memerlukan banyak air, dan naungan. Biasanya Aquilaria tumbuh di bawah tajuk palem atau pakis-pakisan. Aquilaria berkembangbiak dari biji. Buah Aquilaria berupa polong yang keras, dengan panjang antara 2,5 sd. 3 cm. Biji mudah dikecambahkan di tempat yang lembap dan hangat, tetapi terlindung dari panas matahari.
# # #
Dalam kondisi optimum, pohon Aquilaria akan mampu tumbuh dengan sangat pesat. Yang dimaksud dengan kondisi optimum adalah, suhu udara, kelembapan, sinar matahari, air dan unsur haranya cukup. Meskipun Aquilaria tahan hidup di berbagai macam tanah, tetapi dia akan tumbuh optimal di tanah humus yang subur, dengan topsoil cukup tebal. Tidak semua Aquilaria yang tumbuh di hutan merupakah penghasil gaharu. Produk gaharu, baru akan terjadi, apabila kayu Aquilaria terinfeksi oleh kapang Phialophora parasitica. Tumbuhan Aquilaria yang tidak terinfeksi kapang Phialophora parasitica, hanya akan menjadi kayu biasa yang sama sekali tidak harum. Beda dengan cendana (Sandal Wood, Santalum album), yang kayunya memang sudah harum.
Untuk mempertahankan diri, tumbuhan Aquilaria yang sudah terinfeksi kapang Phialophora parasitica akan menghasilkan getah resin (jawa: blendok). Resin ini akan menggumpal dan membentuk gubal. Proses pembentukan gubal berlangsung sangat lambat. Bisa puluhan bahkan ratusan tahun. Resin dan bagian kayu yang terinfeksi inilah yang akan menghasilkan aroma harum yang tidak ada duanya di dunia. Aroma gaharu ini sedemikian khasnya hingga hampir tidak mungkin disintetis. Pembuatan gaharu sintetis, hasilnya akan lebih mahal dibanding dengan gaharu alam. Proses pembentukan gubal berlangsung sangat lama, juga merupakan salah satu penyebab tingginya produk gaharu. 
Kapang genus Phialophora terdiri dari delapan spesies aktif:  Phialophora americana, Phialophora bubakii, Phialophora europaea, Phialophora parasitica, Phialophora reptans, Phialophora repens, Phialophora richardsiae, dan Phialophora verrucosa. Dari delapan spesies itu, yang berfungsi menginfeksi kayu Aquilaria hanyalah kapang Phialophora parasitica. Spesies lainnya merupakan kapang patogen, yang bisa menginfeksi manusia dan menimbulkan gangguan penyakit. Malaysia dan Indonesia, sudah bisa mengisolasi kapang Phialophora parasitica, untuk diinokulasikan ke pohon Aquilaria.
Di Indonesia, penelitian gaharu antara lain dilakukan oleh Balitbang Botani/LIPI, Badan Litbang Departemen Kehutanan dan Universitas Mataram di Mataram, Lombok. Universitas Mataram, malahan sudah melakukan ujicoba penanaman gaharu, dan menginfeksinya dengan kapang Phialophora parasitica. Sayangnya, tanaman yang belum membentuk gubal itu sudah dicuri orang. Para pencuri ini beranggapan, bahwa kayu gaharu sama dengan cendana. Padahal cendana pun memerlukan waktu paling sedikit 30 tahun agar meghasilkan kayu dengan tingkat keharuman prima. Gaharu yang sudah terinfeksi ini, masih memerlukan waktu puluhan tahun agar gubalnya bisa dipanen.
# # #
Mengingat tingginya nilai gaharu, dan juga kelangkaannya, maka budidaya gaharu sudah semakin mendesak. Membuat hutan Aquilaria, bisa dilakukan dengan mudah. Sebab tumbuhan genus ini relatif mudah dikembangbiakkan dan toleran dengan lokasi tumbuh yang sangat ekstrim sekalipun. Mengisolasi kapang Phialophora parasitica juga sudah bisa dilakukan di laboratorium Universitas Mataram. Menginfeksi tumbuhan Aquilaria dengan kapang Phialophora parasitica juga sudah berhasil diketemukan metodenya. Yang menjadi masalah, untuk mengembangkannya dalam skala komersial, diperlukan jangka waktu lama. Gaharu kualitas baik, baru akan terbentuk setelah proses selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Para pemilik modal, akan berpikir ulang kalau investasinya baru akan kembali pada puluhan bahkan ratusan tahun yang akan datang. Para pejabat di lingkup pemerintah daerah pun, juga akan menolak untuk merancang proyek yang tingkat keberhasilannya baru akan bisa diukur puluhan bahkan ratusan tahun kemudian. Belum lagi gangguan masyarakat yang tidak terlalu tahu tentang gaharu. Mereka menganggap bahwa tanaman Aquilaria yang sudah diinfeksi kapang Phialophora parasitica, akan segera bisa ditebang untuk diambil gaharunya. Ketidaktahuan masyarakat ini, juga disebabkan oleh sedikitnya publikasi tentang gaharu. Para wartawan yang mengenal gaharu, jumlahnya juga masih sangat sedikit.
Dalam situasi seperti ini, pencarian gaharu di hutan menjadi satu-satunya alternatif. Di Papua, pencarian gaharu bahkan dilakukan oleh para pengusaha dengan cara yang sangat tidak bermoral. Para pengusaha tahu bahwa masyarakat Papua, sudah kecanduan minuman keras. Hanya dengan disodori beberapa kaleng bir, mereka sudah bersedia untuk mencari gaharu. Apabila gaharu sudah diperoleh, para pengusaha pun menawarkan perempuan kepada penemu gaharu. Perempuan-perempuan malang ini didatangkan dari Jawa, kebanyakan dengan cara ditipu untuk dicarikan pekerjaan yang layak di Freeport atau perusahaan HPH. Setibanya di Papua, mereka hanya dijadikan umpan memperoleh gaharu. (R) # # # 

Kamis, 07 November 2013



Doctor gaharu
untuk kesehatan

Gaharu atau garu berasal dari kata melayu yang berarti “ Harun”, suatu subtansi aromatic berbentuk padat berupa gulungan-gulungan besar dan kecil, berwarna coklat dan kehitam-hitaman yang tersebar tidak menentu dalam pohon penghasil gaharu.  Gaharu diperdagangkan sebagai komoditi mewah untuk keperluan industri : parfum, komestik, dupa, obat-obatan (obat: awet muda, menunda menopause, anti kanker,anti stress, anti stroke, jantung, Liver, anti oksidan dll).  Gaharu telah dikenal dalam perdagangan sejak tahun 1200-an oleh pedagang Portugis dan Tiongkok yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Pohon penghasil gaharu merupakan tanaman hutan bukan kayu yang banyak manfaatnya dan bernilai ekonomi tinggi.
Sebaik-baik sesuatu yang kalian gunakan untuk obat adalah bekam dan terapi kayu gaharu.Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil, telah menggambarkan kepada kami Abdullah yang  sebelumnya juga mengambarkan kepada kami, Humaid Ath Thawil dari Anas Radiallahu‘anhu, bahwa dia ditanya mengenai upah tukang bekam. Dia menjawab; “ Abu Thaibah pernah membekam Rasulullah sha’llallahu ‘alaihi  wasallam, lalu beliau memberinya dua sha’ makanan dan menyarankan  supaya meringankan beban hamba sahayannya, setelah itu beliau bersabda: “ Sebaik-baik sesuatu  yang kalian gunakan untuk obat adalah bekam dan terapi kayu gaharu. ( hadits shohih riwayat Imam Muslim dan Imam Al-Bukhari).

            Gaharu mengandung olibanol, materi resin, dan terpenes. Kandungan lain, saponin, flavonoida dan polifenol, sehingga Gaharu (Ouds) memiliki banyak manfaat. Selain untuk wangi-wangian, juga sebagai pengobatan, bumbu rokok, mampu menurunkan kadar kolesterol jahat (Penelitian oleh King Abd Al-Aziz University, di Arab Saudi) , obat untuk tumor, bisul, muntah, disentri dan demam, menormalkan tekanan darah, menormalkan jantung, paru-paru, menghentikan penyebaran Kista, Miom, Postat dan kanker, aroma terapi, mengobati masalah kulit dan pencernaan, bermanfaat untuk mengatasi sakit tenggorokan, hidung mampat, bekas luka, jerawat dan luka bakar; mengobati diabetes, liver, batu ginjal, anti mikroba (Penelitian oleh DR.Ir. Benni Satria, MS, dosen/peneliti  Universitas Andalas   ; mengobati arthritis (penelitian laboratorium Amerika Serikat).
Saat ini PT Gaharu Woodindo telah memproduksi   berupa teh dalam tiga kemasan bentuk warna yang didasarkan kepada kandungan, dosis dan khasiat yang berbeda.
Khasiat Teh Gaharu:
    
    Teh gaharu merah : berkhasiat untuk pengobatan dan  mencegah penyakit berat seperti Tumor, Kanker, Stroke, Jantung, darah tinggi (berat) diabetes melitus, asam urat, kolestrol jahat, lambung, ginjal berat migrain dan Arthritis dan menormalkan  darah serta dapat meningkatkan stamina.

   Teh gaharu kuning: berkhasiat untuk pengobatan dan pencegahan penyakit seperti  Insomnia, asam urat (sedang), diabetes (sedang), meningkatkan daya ingat, gangguan ginjal dan batu ginjal, Asma, Paru-paru dan dapat menjaga stamina.

C     Teh gaharu hijau : berkhasiat untuk pencegahan penyakit seperti, menormalkan peredaran darah, mengatasi sakit saat haid bagi perempuan, anti stress, meningkatkan stamina, memperlancar BAB, mengurangi bau badan, Thypus, Disentri, Diare, Maag, Awet muda dan meningkatkan stamina.

Teh  Gaharu diolah dari pucuk dan daun gaharu beserta gubal pilihan. Betul betul natural, tidak dicampur dengan bahan kimia lain diproduksi secara tradisional dengan kemasan yang higyenes beserta aroma dan cita rasa yang khas.

Cara Pakai :
Rebus air sampai mendidih ( +/- 1 liter) masukkan 1 sachet teh gaharu selama 2-5 menit. Siap disajikan, minum pagi, siang dan malam. Kecuali bagi penderita tekanan darah rendah minum ½ sampai 1 gelas 1 x sehari.  Dianjurkan banyak minum air putih.

Produksen : PT Gaharu Woodindo
Izin Produksi :Depkes (P-IRT No. 3101371011186-18)
Alamat Kantor : Jalan. Ratulangi No 19
Site : http://pt-gaharuwoodindo.blogspot.com
Tlp. Kantor Padang: 0751- 28340
Contak Person atau konsultasi :
-          0751- 8216195                            -   082174136613
-          081363999914
-          081267850452
TANAMAN PENGHASIL GAHARU(Aquilaria spp) BER NILAI EKONOMI SANGAT TINGGI TERANCAM PUNAH  (Satria dan Ardi)

Tanaman penghasil gaharu (Aquilaria spp Lamk) berasal dari India tetapi karena diekploitasi secara besar-besaran maka tanaman ini di Negara asalnya   sangat sedikit sekali dijumpai. Indonesia merupakan Negara penghasil gaharu/gubal terbesar didunia . Daerah penyebaran gaharu di Indonesia yang ada saat ini adalah  kawasan hutan Sumatera 24 %(Aceh, Sumut, Sumbar,  Riau, Jambi,Bengkulu dan Sumsel), Kalimantan18 %, Sulawesi 5%, Maluku, Papua (38%), Nusa Tenggara 13 %, dan Jawa 2%. Selanjutnya tanaman gaharu  di Sumbar masih  di jumpai pada  Kabupaten : Sawah Lunto/Sijunjung; Sosel; Pessel; Pasbar ;Pasaman; Mentawai; Agam: 50 Kota : Padang Pariaman dan Padang  (Satria,2000 s/d 2006).
 Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang masih memiliki tanaman gaharu jenis Aquilaria malacensis dan Enkleia malacensisi, yang memiliki nilai ekonomi sangat  tinggi, karena kandungan gaharu /gubalnya paling super dibandingkan jenis tanaman gaharu yang lain.  Menurut CITES 1995 dan 2003 tanaman gaharu Aqularia malacensis dan Enkleia malacensis tercancam punah bila tidak segera dibudayakan, mengingat sampai saat ini tanaman tersebut diburu, ditebang oleh masyarakat, terutama yang berumur 5 – 8 tahun  walaupun kadang-kadang tanaman tersebut belum berisi gaharu/gubal. Umumnya di alam tanaman gaharu  berbunga dan berbuah umur 10 tahun, dan apabila tanaman telah berumur diatas 15 tahun ,di alam jarang tanaman tersebut berisi gaharu/gubal, tetapi  apabila diperlakukan ada kemungkinan pohon berisi gaharu/gubal.
Tanaman  Gaharu merupakan tanaman kayu berat sebagai produk damar atau resin dengan aroma keharuman yang khas. Gaharu sering digunakan untuk mengharumkan tubuh dengan cara fumigasi (farfum), Obat penghilang strees, gangguan ginjal, sakit perut,asma, hepatitis,sirosis,pembengkakkan liver dan limpa, bahan antibiotik untuk TBC,reumatik, tumor , kanker,malaria,radang lmbung dan  upacara ritual keagamaan.
       Dalam perdagangan, gaharu dikenal dengan agarwood/aloewood/ eaglewood.  Rata-rata kuorta yang dimiliki Indonesia sekitar  300 ton/tahun.  Kuorta ini diperoleh dari pembagian permintaan  pasar oleh negara produksen gaharu, tetapi saat ini produksi gaharu Indonesia baru terpenuhi  10  % atau sekitar 30 ton/ha sehingga masih sangat jauh dari kuorta ekspor.  Kondisi ini sangat berdampak terhadap harga jual gaharu yang saat  berkisar Rp. 200.000 sampai dengan Rp. 40 juta per Kg tergantung kualitasnya, disamping itu harga juga ditentukan oleh factor manfaat gaharu untuk bahan baku obat,  di mana pertambahan penduduk tiap tahun meningkat, sehingga kebutuhan gaharu/gubal untuk bahan baku obat tiap tahunnya tidak terpenuhi. 
       Potensi produksi gaharu di Indonesia terutama disumatera berasal dari  jenis : Aquilaria malacensis, A. microcarpa dan A. filaria, .macrophyllus, Enkleia malacensis, Wikstroemia tenuriamis, dan Dallbergia parvifolia.
       Agar kesinambungan produksi gaharu berkualitas tinggi  ini tetap terbina dan tidak tergantung pada alam maka perlu upaya pembudidayaan yang optimal pada beberapa daerah endemik dan sesuai, khususnya jenis Aquilaria malacensis dan Enkleia malacensis yang berkualitas tinggi, pembudidayaannya pun berpeluang menurunkan tingkat kelangkaan.  Pembudidayaan gaharu berkualitas tinggi Indegenus Sumbar memang saat sangat mungkin untuk dikembangkan karena teknologi produksinya sudah cukup diketahui.  Teknologi  ini  diperoleh dari hasil temuan masyarakat pemungut gaharu, hasil penelitian, dan hasil uji coba di lapangan (Satria 2000 – 2005) dan hasil penelitian oleh beberapa peneliti dari Indonesia dan International, tetapi hasilnya belum maksimal.  Selanjutnya  Satria, Gustian, Swasti, dan Kasim 2006- sekarang sedang melanjutkan penelitian dalam rangka mendapatkan gaharu yang berkualitas super yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.
Satria (2006)melaporkan bahwa patogen penyebab penyakit yang berasal dari gaharu super yang dihasilkan dari pohon gaharu Aquilaria  spp yang ada di Irian Jaya setelah disuntik atau diinokulasikan pada pohon gaharu Aquilaria malacensis, Aquilaria microcarpa dan jenis Aquilaria lain indegenus Sumbar di Sawah Lunto Sijunjung dan Pesisir Selatan 3 bulan -  2 tahun belum menunjukkan ada indikasi tanda-tanda terbentuk gaharu yang bermutu  (Satria 2004 – 2006), tetapi  patogen penyebab penyakit, stressing agens dan tanaman inang (pohon gaharu) spesifik lokasi yang ada di Sumbar setelah disuntik terhadap pohon gaharu yang ada di Sumbar  telah ada yang memiliki indikasi terbentuk gubal gaharu yang bermutu (Satria, 2006- 2007),bahkan ada yang sudah dipanen.
Pemerintah Daerah perlu mengambil kebijakan( Pemda Propinsi, Pemko dan Pemkab) secepatnya mengingat tanaman Aquilaria malacensis Lamk ini bernilai ekonomi tinggi dan dapat ditanam pada lahan-lahan Nagari ataupun lahan kritis.
Kabupaten Mentawai  merupakan daerah penghasil gaharu Super nomor satu di dunia sebelum tahun 1985, tetapi kondisinya sejak tahun 1985 sampai saat ini tidak ada usaha untuk membudidayakan gaharu.  Disamping itu daerah lain di Sumatera Barat yang pernah menghasilkan gaharu super supaya segera membudidayakan tanaman Aquilaria malacensis, mengingat tanaman tersebut  2 – 3 tahun akan punah.  Bahkan tanaman penghasil gaharu ini dapat dijadikan tanaman hutan kota, hal ini didukung oleh adanya saat ini dua (2) batang gaharu berumur lebih kurang 12 tahun terletak disudut jalan Protokol di Ibu Kota Propinsi Sumatera Barat yaitu :Kota Padang Tercinta yang mulai memperlihatkan tanda-tanda berisi, tetapi dilupakan orang (Satria, 2006). 
              Sementara  saat ini Pemda Propinsi  dan Pemkab/Pemko di Sumatera Barat sedang giat-giatnya mengembangkan tanaman Cacao, tetapi sangat sayang  ada tanaman spesifik daerah lokal Sumatera Barat yang selama ini diburu dan ditebang untuk diambil gubalnya  serta memberikan kontribusi ekonomi yang sangat besar kepada masyarakat yang tahu akan tanaman penghasil gaharu (Aquilaria malacensis) menjadi terlupakan.Oleh sebab itu kami menghimbau kepada Pemda di Sumatera Barat untuk.dapat membudidayakan tanaman ini dan bahkan  dari hasil penelitian Satria,dkk (2006-2007)  ternyata tanaman penghasil gaharu dapat ditanam diantara tanam Cacao. Pada zaman Belanda masyarakat Sumbar setiap menunaikan Ibadah  Haji ke Tanah Suci Mekah, selalu mebawa gubal gaharu, dan Bapak Bupati Sawahlunto/ Sijunjung sejak tahun 2006 telah mensosialisasikan ke pada masyarakat bahwa dengan menanam 5 – 8 batang tanaman gaharu Insya’ Allah dalanm jangka waktu 5 – 8 tahun, sudah bisa naik haji sekeluarga, Bahkan Bapak Gubernur Sumbar dan Bapak wakil Bupati Solok Selatan saat ini mulai mencoba menanam tanaman gaharu jenis Aquialria macensis Lamk. Bapak Walikota Sawahlunto  pada tahun ini telah mulai mencoba menanam tanaman gaharu jenis Aquilaria malacensis Lamk dan menggerakan masyarakatnya, untuk dapat menanam tanaman gaharu diantara  tanaman perkebunan yang telah ada sebelumnya, dan nantinya apabila harga tanaman cacao jatuh nantinya maka dengan adanya salah satunya tanaman gaharu yang ditanam akan dapat menutupi harga yang jatuh tersebut, sehingga pendapatan masyarakat/petani tetap dapat meningkat nantinya.
             Secara ekologis jenis – jenis gaharu di Indonesia tumbuh pada daerah dengan ketinggian 0 – 2400 m dpl.  Umumnya gaharu  yang berkualitas baik tumbuh pada daerah mempunyai suhu 28 – 34 0C, kelembaban 60 – 80 %, dan curah hujan 1.000 – 2.000 mm/tahun. Gaharu untuk tumbuh dengan baik tidak memiliki lokasi khusus. Umumnya gaharu masih dapat tumbuh baik pada kondisi tanah dengan  struktur dan tekstur  yang subur, sedang maupun ekstrim, dan gaharu pun dapat dijumpai pada kawasan hutan rawa, gambut, hutan dataran rendah atau hutan pengunungan dengan tekstur berpasir, bahkan ditemukan juga jenis gaharu yang tumbuh di celah-celah berbatuan.
              Jarak Tanam  2 m x 3 m atau  3 m x  3 m dan besar lubang = 40 x  40 x 40 cm3.  Saat ini telah dikembangkan  bibit kultur dan non kultur berbagai tanaman Gaharu, bahan stressing agents gaharu/ mikroba penginfeksi Gaharu, dan  penyuntikan bahan stressing agens pada tanaman penghasil gaharu endemik Sumbar, serta telah ada tanaman gaharu yang berisi gubal setelah diperlakukan selama 1 tahun dengan menggunakan inokulan dan tanaman inang serta lingkungan  spesifik Sumbar setelahdiantara pohon gaharu tersebut sudah ada yang berisi gaharu/gubal.
             Diharapkan kedepan adanya kerjasama antara Pemda Propinsi,Pemko/Pemkab terutama Dinas Kehutanan   dengan   Perguruan Tinggi/ Lembaga terkait  yang ada di Sumbar, mengingat tanaman ini memiliki nilai ekekonomi  sangat tinggi, dan terbentuknya gubal/gaharu super akibat dari bahan mikroba dan tanaman inang serta lingkungan  yang spesifik lokasi.  Disamping itu dapat menyelamatkan tanaman gaharu dari kepunahan dan hasil berupa gubal/gaharu dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan Devisa Daerah serta Negara. Kontak person: Dr. Benni Satria, MP (Dosen Faperta Unand; Tenaga ahAhli/Konsultan PT GWI. Telepon (0751)-447820; HP.082174136613; 081266073588; 081363999914.  

Kenali lebih dekat, jenis gaharu berdasarkan daun

Beberapa gambar jenis daun gaharu berikut ini adalah hasil dokumentasi tim GSK. Ada banyak ragam jenis daun gaharu yang tumbuh dialam maupun budidaya, berikut ini merupakan gambar bentuk-bentuk daun gaharu yang GSK identifikasi morfologinya.
A. agalloccha roxb
Survey GSK memang membuktikan bahwa dihutan kalimantan sepertinya didominasi oleh gaharu dari genus Aquilaria. Beberapa yang paling sering ditemukan yaitu jenis dari Aquilaria Microcarpa, Aquilaria Malaccensis dan Aquilaria Beccariana. Untuk menentukan jenis gaharu dapat dilihat dari beragam aspek, misalnya saja ciri morfologis, lokasi penyebaran, sifat fisik gaharu, bahkan dapat diidentifikasi juga berdasarkan nama daerah. Pada umumnya, jenis ini memiliki ketinggian batang mencapai 35 s/d 40 Meter. Jenis Aquilaria malaccensis memiliki diameter rata-rata sekitar 60 cm dengan ketinggian mencapai 40 mtr.  Secara fisik, jenis-jenis dari Aquilaria biasanya ditandai dengan bentuk kulit batang yang licin, kulit batang juga memiliki warna keputih-putihan, daging kayu lebih keras dibanding jenis gaharu lainya. Aquilaria berdasarkan bentuk daun biasanya dicirikan dengan bentuk daun yang meruncing pada bagian ujung daun, tampak mengkilap jika terkena cahaya matahari. Buah jenis Aqularia spp berbentuk bulat telur, memiliki panjang sekitar 3 s/d 5 cm dengan kulit tertutup oleh bulu halus kemerahan. Beberapa jenis dari Aquilaria antara lain adalah A. malaccensis, A. filarial, A. hirta, A. microcarpa, A. agallocha roxb, A. beccariana, A. secundana, A. moszkowskii, A. tomentosa. Berikut ini contoh gambar jenis gaharu berdasarkan sumber dokumentasi GSK :
A. microcarpa
A. beccariana
Gryinops versteegii
Gonystylus bancanus
Jenis Gonystylus bancanus pada umumnya tersebar didaerah Bangka belitung, sumatera, dan kalimantan. Dicirikan dengan tinggi batang yang dapat mencapai 45 mtr, dengan diameter hingga 120 cm. Jenis Gonystylus bancanus ternyata memiliki akar napas, berdaun tunggal memiliki ujung daun yang runcing, dengan warna daun yang hijau kehitaman.
W. Tenuriamis
Jenis dari Wiekstroemia spp kebanyakan termasuk kedalam jenis gaharu berupa pohon semak, umumnya memiliki rata-rata tinggi sekitar 7 mtr, dengan diameter kira-kira 7.5 cm. Ciri khas pada batang Wiekstroemia spp biasanya dapat dilihat dari warna ranting yang kemerahan atau kecoklatan. Daun berbentuk bulat telur dengan ukuran panjang dan lebar melebihi ukuran daun gaharu pada umumya dengan kisaran panjang sekitar 7 - 12 cm, dan lebar 4 cm.
W. Androsaemofilia
 

Sample text

Sample Text